Kebudayaan

Pantauan Puncak Merapi 30 Juli 2013

lubang kawah sisi barat laut, terlihat berbeda dengan hasil pantauan MMC bulan sebelumnya

lubang kawah sisi barat laut, terlihat berbeda dengan hasil pantauan MMC bulan sebelumnya

Selo. Mujianto pengelola radio komunitas MMC pada selasa kliwon 30 Juli 2013 kembali melakukan pemantauan langsung ke puncak merapi. Pantauan ini dilakukan setelah beberapa hari terakhir terjadi letupan di merapi yang juga berdampak pada kondisi kenyamanan warga merapi melihat pemberitaan di berbagai media. Muji mulai naik merapi pada tengah malam dan langsung menuju puncak. berikut ini adalah foto foto yang didapat selama melakukan perjalanan ke puncak merapi.

Gambar diatas oleh tim MMC kemudian dikomunikasikan dengan Kepala PVMBG Surono melalui SMS, “Hasil pengamatan ini kami sampaikan kepada mbah rono dan kemudian kami sampaikan hasil telaahnya kepada masyarakat” terang Muji. Muji berharap dengan informasi ini masyarakat bisa semakin siaga dan waspada. Menurut Pak Surono melihat perkembanan letupan akhir ini  mengatakan bahwa memang merapi sangat kay SO2 .

Lubang sisi timur, hembusan tanggal 2 juli 2013

Lubang sisi timur, hembusan tanggal 2 juli 2013

” Saat dulu saya minta mundurkan pengungsi ke radius 20KM  karena SO2 merapi naik sampai Kilo ton per hari” terang mbah rono.  Lebih lanjut mbah rono menegaskan bahwa bau belerang yang ada itu sangat wajar, ” Semoga keluar asap putih terbal terus seperti itu sehingga tidak ada tekanan tertimbun dan langsung lepas” tegas kepala PVMBG kepada MMC. Kepada masyarakat merapi mbah rono mengingatkan masyarakat untuk selalu siaga dan waspada.  SMS MMC

Ketebalan abu di kepundan merapi pasca letupan 22 juli 2013

Ketebalan abu di kepundan merapi pasca letupan 22 juli 2013

Kawah Merapi posisi barat laut terlihat kubangan makin melebar pasca letupan

Kawah Merapi posisi barat laut terlihat kubangan makin melebar pasca letupan

Lubang di kawah merapi sisi timur yang masih mengepulkan asap

Lubang di kawah merapi sisi timur yang masih mengepulkan asap

24 TPA ikuti Gebyar Kreasi Anak Sholeh

Gebyrar Kreasi Anak Sholeh

Unjuk Kebolehan anak anak TPA

Selo. Tak kurang dari dua ribuan orang memadati dukuh Kuncen, Desa Samiran pada hari minggu 24 Juni 2012. Mereka datang dari berbagai penjuru kecamatan selo, bahkan tidak sedikit juga yang datang dari wilayah kecamatan Cepogo. Kedatangan mereka dalam rangkan menyemarakkan HUT yang ke 9 JAD (Jamiatul Atfhfal “DARUSSALAM”) Desa Samiran, sebuah organisasi keagamaan yang menghimpun TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) se Desa Samiran. Pada HUT yang ke 9 ini, dihelat sebuah acara GEBYAR KREASI ANAK SHOLEH 2012 yang diikuti oleh TPA di Kecamatan Selo dan Cepogo. Menurut Tiyono, salah satu dari panitia Gebyar Kreasi Anak Sholeh mengatakan bahwa ini memang evant pertama yang digelar oleh JAD. “ini baru pertama kali dilakukan oleh JAD, semoga kedepan banyak dukungan dari berbagai pihak sehingga bisa rutin diselenggarakan” papar Tiyono kepada MMC Radio. Semua tahapan acara ini juga disiarkan langsung melalui Radio Komunitas MMC FM.

Rangkaian acara Gebyar diawali dengan Pawai Ta’aruf yang mengambil Start di Lapangan Samiran kemudian iring iringan berjalan kurang lebih satu setengah kilo menuju pusata pelaksanaan Gebyar di dukuh kuncen. Sepanjang perjalanan alunan sholawat dan lagu lagu islami dilantunkan dengan semangat oleh peserta yang berasal dari 24 (duapuluh empat) TPA. Santriwan santriwati tampak menikmati pawai ini dan sangat bersemangat walaupun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, semangat mereka mengalahkan rasa letih dan capeknya jalan kaki padahal diantara peserta ada yang masih kecil. Memasuki dukuh kuncen, peserta sudah disambut dengan penonton yang memadati jalan, mereka senang melihat anak anak TPA yang bersemangat dan kompak baik dari sisi busana dan irama langkahnya.

Lomba lomba

Selain pawai ta’aruf, ada 4 (empat) lagi perlombaan yang digelar dalam ajang Gebyar Kreasi Anak Sholeh yaitu Pildacil (Da’i Kecil), Melukis, Tartil Al Quran Serta Gerak dan Lagu. Peserta dibagi dalam 4 lokasi lomba yang sudah disiapkan oleh panitia, panggung utama diisi Lomba pildacil sedangkan tiga lomba lainnya diadakan agak jauh dari lokasi panggung utama. Untuk persiapan masing masing peserta, panitia juga menyiapkan rumah pondokan bagi masing masing kontingen. Rumah pondokan ini dibagi di rumah rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi lomba.

Lomba melukis menjadi salah satu lomba yang banyak diminati, yang menarik hampir semua peserta selalu melukis gambar Gunung. Widodo salah satu pengunjung memberikan tanggapan atas banyaknya gambar gunung karena mungkin dalam pikiran anak anak selalu teringat gunung. “Imaginasi mereka dengan gunung sangat tinggi, karena mereka dari lahir sudah melihat Gunung, sehingga ketika diminta menggambar alam, gunung yang paling banyak muncul dalam imaginasi mereka, apalagi di selo ada gunung merapi yang aktif” kata widodo. Berbagai pesan moral dapat dilihat dari lukisan yang dihasilkan para peserta tentang pentingnya pelestarian lingkungan, misalnya saja mereka melukiskan hutan yang rimbun, pepohonan yang tumbuh di sekitar gunung yang ini sangat kontras dengan kondisi lahan di selo yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Di Lomba Gerak dan Lagu, terlihat para peserta dari berbagai TPA yang sedang unjuk kemampuan menari dengan iringan lagu lagu islami. Kekompakan setiap gerakan tari dan keindahan busana yang mereka kenakan membuat Juri nampak bingung menentukan siapa yang menang. Karena hampir semua penampil sangat bagus dalam pementasannya. Suasana meriah penuh semangat dalam lomba gerak dan lagu ini makin terasa ketika sorak sorai para pendukung dan penonton membahana memberikan semangat pada Penampil yang mereka idolakan.

Berbeda dengan suasana yang meriah di panggung gerak dan lagu, di Lomba Tartil Al Qur’an terasa lebih khidmat. Setiap peserta membacakan ayat ayat Al Qur’an secara bergiliran. Banyak para penonton yang hanyut dalam lantunan ayat ayat suci yang nyaring dan indah dibacakan oleh anak anak kecil. Beberapa merasakan bahwa suara anak anak ini sungguh menghentak batin dan hati para orang tua.

Ceramah Da’i Kecil

Dari panggung utama para dai dai kecil sedang unjuk kepiawaiannya berceramah dihadapan publik. Berbagi nasehat disampaikan dengan bahasa yang lugas dan tegas oleh setiap peserta. Ada yang mengambil tema kiamat, ada yang mengambil tema sholat, bahkan ada juga yang berani mengungkapkan kritik sosial terutama tentang penegakan hukum. Dai dai kecil ini ternyata juga memiliki kemampuan komunikasi dua arah yang baik, selain menyampaikan nasehat nasehat, mereka juga mengajak para pengunjung untuk bicara dengan melempar pertanyaan kepada pengunjung. Suasananya menjadi lebih hidup lagi karena beberapa dai juga mengajak pengunjung untuk bersholawat bersama. Yang banyak menyedot perhatian pengunjung ketika seorang dai kecil dari Dk Selo membawa wayang kulit dalam pengajiannya. Salah satu tokoh pewayangan yang melambangkan keculasan yakni SENGKUNI menjadi tema yang menarik. Sang dai mengatakan bahwa kalau ada banyak sengkuni di sekitar kita maka kehidupan akan menjadi kacau.

Sore harinya ketika perlombaan sudah selesai, panitia mengumumkan hasil hasil perlombaan dan pemenang di masing masing jenis perlombaan. Namun menurut Siswanto salah yang memandu jalannya pengumuman pemenang, bahwa bukan semata mata untuk kemenangan namun lomba ini untuk memotivasi agar semua santriwan santriwati semakin giat mengaji. (MMC_Selo)

Tiga Kelompok Seni Asal Selo Marakkan Grebeg Sudiro

Suasana Grebeg Sudiro

Tiga Kelompok Kesenian Selo ikut memeriahkan acara Grebeg Sudiro di Kampung Sudiroprajan, Kawasan Pasar Gede Hardjonagoro pada hari Minggu (15/1).Tiga kelompok Seni itu adalah Cambuk Mustika dari Dukuh Kuncen, esa Samiran, Turonggo Seto (Salam, Samiran) dan Keprajuritan (Sepi Nduwur, Jrakah).

Grebeg Sudiro sendiri merupakan event budaya rutin yang telah terselenggara 5 tahun berturut-turut yang digagas masyarakat etnis Jawa dan Tionghoa. Event ini bertujuan untuk meningkatkan nasionalisme sekaligus menjaga integrasi sosial dan pluralisme di Kota Solo. Selain itu, Grebeg Sudiro juga dimaksudkan untuk mendukung program-program kebudayaan dan kepariwisataan Kota Solo. Tahun ini panitia mengambil tema Guyub Rukun Agawe Santosa: Sudiro Kampung Kebhinekaan, Bersatu dalam Keberagaman. Tampilnya Kelompok Seni Reog Selo itu sendiri adalah salah satu seni budaya Jawa yang dihadirkan pada acara kirab tersebut.

Rombongan kirab dibuka oleh pasukan Paskibra. Kemudian diikuti berbagai kesenian budaya seperti liong, barongsai, reog, wayang, hingga pertunjukan wushu dan tai chi. Tidak main-main kirab diikuti 44 kelompok peserta dari kelompok seni dan budaya. Satu yang cukup menarik perhatian adalah seekor liong yang mampu mengeluarkan kembang api dari mulutnya.

Momen yang paling dinantikan dalam setiap pelaksanaan event tahunan menjelang perayaan Imlek ini adalah gunungan kue keranjang yang diperebutkan oleh warga. Total sebanyak 4.000 buah kue keranjang ditata dalam gunungan berbagai bentuk, mulai dari gunungan biasa hingga yang berbentuk pagoda.

Tak hanya kue keranjang, berbagai panganan khas kampung Balong turut disiapkan dalam gunungan yang berbeda, seperti bakpao, gembukan, cakue, bakmi, dan onde-onde. Berbagai macam panganan itu pun diperebutkan warga usai diarak mengelilingi kampung Sudiroprajan. (FR)