Archive for the ‘Ekonomi’ Category

Aksi Petani Tembakau Boyolali tolak PP 109 tahun 2013

Aksi Petani Tembakau Boyolali tolak PP 109 tahun 2013

Boyolali. Walaupun sudah berkali kali aksi tapi akhirnya RPP tembakau disahkan juga dan akhirnya lahirlah Peraturan Pemerintah (PP) No 109/2012 tentang Pengamanan Zat Adiktif berupa Tembakau. Hal inilah yang menyulut para petani dari 4 kecamatan (Selo,Cepogo, Musuk, Ampel) di kabupaten Boyolali kembali turun jalan.

Kedatangan petani dengan berbagai kendaraan ini sempat sedikit memacetkan jalan pandanaran. Ketika melihat baliho tentang kampanye anti rokok Massa aksi sempat emosi, Baliho bertuliskan ‘Raih Prestasi Tanpa Rokok, Rokok Pintu Masuk Narkoba Pembunuh Masa Depan’ itu dirobohkan.

Tak kurang dari 5000an masa memadati jalan di depan kantor Bupati Boyolali, dengan lantang mereka meneriakkan cabut PP 109. Mereka meminta kepada Bupati Seno Samodra dan DPRD untuk membantu memperjuangkan nasib petani tembakau. Setelah diterima audensi dengan Bupati, Tulus menjelaskan bahwa Bupati mendukung aspirasi petani tembakau Boyolali. “Hasil audiensi, Pak Bupati beserta DPRD mendukung aspirasi kami. Pak Bupati menjamin bahwa di Boyolali tidak akan dikeluarkan Perda tentang larangan merokok,” ujar Teguh

Tulus dari APTI Boyolali kepada wartawan mengatakan bahwa ribuan petani Boyolali menggantungkan hidupnya dari Tembakau. “Di Boyolali ini ada 15.000an petani yang menggantungkan hidupnya dari tembakau. Jika PP ini dilaksanakan, maka akan sangat merugikan dan bahkan mematikan perekonomian petani,” ungkap Tulus. Lebih lanjut Tulus berharap agar PP ini dibatalkan saja karena hanya menambah sengsara petani. MMC

Boyolai. Perjuangan petani Tembakau Boyolali untuk menolak rencana pemerintah pusat mengesahkan PP Tembakau mendapat dukungan dari Wabup dan Ketua DPRD. Hal ini disampaikan oleh kedua petinggi Boyolali dalam acara pelepasan ribuan petani tembakau yang akan bertolak ke Jakarta.

Wakil Bupati Boyolali , Agus Purmanto mengatakan bahwa Pemkab Boyolali sudah berupaya untuk menyampaikan aspirasi petani yang menolak Rencana pengesahan RPP Tembakau melelui pengiriman surat ke pemerintah pusat. “Pemkab Boyolali sudah mengirikan surat penolakan terhadap RPP tembakau ini kepada menteri kesehatan dan menteri pertanian” tegas Wabup. Wabup mengatakan bahwa pemkab Boyolali sangat mendukung upaya penolakan ini serta mangestoni para petani tembakau yang akan melakukan unjuk rasa di jakarta. “kami mendukung gerakan moral yang dilakukan petani, namun kami meminta tetap damai dan tidak anarkhis” imbuh wabup.

Dukungan yang juga datang dari ketua DPRD Boyolali S Paryanto semakin membuat semangat petani yang akan berangkat ke Jakarta semakin menyala nyala. Bagi S Paryanto, sebagai wakl rakyat tentu akan sangat mendukung segala tuntutan yang aspirasi dari rakyat.

Menurut rencana para petani ini akan berada di jakarta bersama dengan puluhan ribu petani dari daerah lain di Indonesia. Selama di Jakarta aksi akan dilakukan di Kemenkumham, Kemenkes dan Mengkokesra untuk menuntut pembatalan pengesahan RPP Tembakau.

Dari Boyolali ada sekitar 30 BUS yang siang ini berangkat menuju jakarta, mereka kebanyakan berasal dari kecamatan Selo, Musuk, Cepogo dan Ampel. untuk membiayai Aksi mereka ke jakarta, para petani rela untuk iuran yang jumlahnya bervariasi antara 15 – 50 Ribu rupiah pe kepala keluarga. Sunardi petani dari samiran mengatakan bahwa aksi ini dibiayai secara gotong royong oleh para petani. “RPP ini sangat mengancam masa depan petani tembakau, makanya kami rela berjuang dan bergotong royong untuk menolak RPP ini” tegas nardi yang bergabung dengan ribuan petani tembakau lainnya. MMC

MMC Selo. Sayur merupakan komoditas utama yang menjadi tumpuan pemenuhan kebutuhan ekonomi petani di lereng merapi dan merbabu seperti kol, wortel, lombok dan banyak lagi produk usaha tani lainnya. Akan tetapi lambat laun, nasib komoditas ini semakin merana dan tentunya akan mengancam masa depan ekonomi petani di Boyolali, khususnya di Kecamatan selo. Triyono ketua OPMM (Organisasi Petani Merapi Merbabu) dalam obrolan off air di studio Radio MMC mengatakan bahwa nasib petani saat ini dalam ketidakpastian terutama pada tahap pemasaran produk pertanian, “posisi tawar petani sangat rendah, apalagi menghadapi hujannnya produk pertanian impor dipasaran” terang Triyono.

Dari pantaun MMC saat ini harga wortel ditingkat petani hanya 700 rupiah, harga ini sangat rendah dan disaat yang sama berbagai kebutuhan hidup harganya meningkat maka Pemerintah wajib turun tangan sebagaimana yang disampaikan Sartono pegiat PEPELING (Pemuda Peduli Lingkungan). “Pemerintah tidak boleh abai dan harus segera berbuat sesuatu untuk melindungi usaha tani sayur melalui SKPD terkait” pinta sartono. Lebih lanjut sartono meminta agar setiap perencanaan pembangunan mampu melihat secara utuh persoalan pertanian yang ada sehingga programmnya benar benar sesuai dengan kebutuhan seperti mengatur tata produksi, distribusi dan konsumsi.

Selo Trade Centre
Sayur sebagai sumber ekonomi utama harus mendapat prioritas untuk segera disusun strategi jangka panjangnya baik pada tingkat produksi di petani sampai pemasarannya. “Peningkatana kualitas dan kuantitas produksi sayur dan bagaimana model pemasaran yang baik menjadi prioritas yang harus dikerjakan kedepan misalnya saja dengan pembentukan Selo Trade Center yang akan memperdekat akses petani pada pasar” tegas Triyono. Untuk mewujudkan itu, petani dan pemerintah segera duduk bersama merumuskan langkah yang tepat. SMS_MMC

Dodol Susu calon Andalan Selo

Posted: 1 Februari 2012 by MMC in Ekonomi, Pertanian

Ibu-Ibu berdaya membuat Dodol Susu

MMC-SELO. Berawal dari kegelisahan karena harga susu yang rendah dan tidak sebanding dengan biaya beternak sapi perah, ibu ibu di dukuh pentongan yang tergabung dalam kelompok BERDAYA berinisiatif untuk membuat makanan olahan berbahan Susu. Atas fasilitasi dari Pemuda Peduli Lingkungan atau Pepeling dan curahan gagasan dari ibu Rudi seorang Dosen dari UNS maka tercetuslah Dodol Susu.

Dodol susu adalah makanan yang dibuat dari susu sapi sebagai bahan baku, lalu tepung beras, tepung ketan, gula, margarin dan gar am. Saat ini sudah di kembangkan dalam 3 (tiga) rasa yakni rasa susu murni, rasa coklat dan rasa jahe. Menurut Ngasiah setiap 15 Liter susu dapat diolah menjadi 40 (empat puluh) doz dodol yang masing masing berisi 10 buah. Setiap dusnya saat ini dijual dengan harga Rp 7.500,00.

Ngaisah menuturkan bahwa karena masih dalam tahap inisiasi, kelompok berdaya belum memproduksi secara rutin “kami memproduksi setiap ada pesanan saja” katanya. Bahkan dodol ini sudah di pesan sampai salatiga, hal ini karena dibantu promosinya oleh DKUB (dari kita untuk boyolali) sebuah kelompok anak muda yang sangat memiliki perhatian terhadap pengembangan potensi Boyolali.

Ternyata walaupun dalam skala kecil, usaha ini telah membantu peningkatan kesejahteraan keluarga anggota kelompok. “Harapan kami kedepan, usaha/kegiatan kelompok menjadi semakin berkembang dan maju sehingga dapat semakin mensejahterakan anggotanya” Tutur Siti Ngaisah ketua kelompok. dia juga berharap kelak usaha ini makin sukses dan bisa menjadi penyokong ekonomi masyarakat. selain peningkatan permodalan, ngaisah juga berharap agar nanti makanan ini bisa mendapatkan ijin dari Depkes sehingga akan semakin yakin di konsumsi oleh masyarakat. (Mujianto_MMC)