Menggugat Stigma Perempuan sebagai “KONCO WINGKING”

Bincang MMC "Menggugat Stigma Perempuan sebagai KONCO WINGKING"

MMC SELO. Kesetaraan gender yang ramai di dengungkan baik oleh kalangan LSM dan Pemerintah saat ini telah mendorong lahirnya perempuan perempuan yang memiliki kesadaran untuk memperjuangkan hak nya dan dapat berperan setara dalam pembangunan. Bahkan diantara mereka sudah banyak yang tidak sepakat atau bahkan menggugat stigma perempuan sebagai “konco wingking” (teman dibelakang red). Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Siti Aisyah, ketua kelompok tani perempuan “Berdaya” dalam sebuah acara Bincang Bersama yang diselenggarakan oleh Radio Komunitas MMC fm dan SFCG Jakarta beberapa waktu yang lalu. Menurut Siti Aisyah perempuan desa memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam kebijakan di tingkat desa dalam rangka memajukan desa. “Perempuan dapat berpartisipasi dalam pembangunan di desa baik secara individu maupun berkelompok, namun untuk berpartisipasi butuh media belajar dan media yang tepat adalah berorganisasi” tutur Siti. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa lahirnya kelompok BERDAYA memang dimaksudkan untuk menjadi ruang belajar bersama ibu ibu yang tergabung didalamnya misalnya tentang hak hak perempuan.

Lahirnya kelompok berdaya menurut siti memang cukup unik, karena kelompok yang semua anggotanya perempuan ini awalnya merasa tertarik dengan kegiatan suami suami mereka dalam kelompok tani “Sumber Makmur”. Melihat suami yang sering berdiskusi tentang persoalan pertanian memancing beberapa ibu ibu untuk menginisiasi kelompok perempuan agar mereka juga bisa berbuat sesuatu untuk kampung mereka. “kami ingin buktikan bahwa perempuan juga bisa berorganisasi” ungkap Siti. Semenjak berdiri kelompok BERDAYA ini telah banyak melakukan kegiatan kegiatan baik yang bersifat ekonomi maupun sosial, misalnya saja uji coba pembuatan dodol susu, diskusi tentang penanggulangan bencana sampai bagaimana mewujudkan akses pendidikan bagi anak anak. Kelompok ini menurut siti memiliki cita cita yang belum bisa direalisasikan yakni pembuatan perpustakaan kampung dan pengembangan tabungan pendidikan anak. “Dengan perpustakaan kampung, nantinya anak anak tidak hanya akan bermain main saja, tetapi bisa belajar diluar waktu sekolahnya” tutur Siti.

Siti mengajak kepada ibu ibu di desa untuk tidak terjebak dalam stigma konco wingking, karena memang sejatinya memiliki hak yang sama dengan bapak bapak untuk berpartisipasi dalam mengembangkan lingkungannya. Siti juga mengatakan “Mari ibu ibu kita membangun organisasi untuk bisa menjadi ruang belajar, kelompok berdaya siap menjadi teman diskusi bagi kelompok kelompok yang lain”. Nardi MMC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s