Forabi gelar Refleksi Akhir Tahun

Refleksi Akhir Tahun Forabi

MMC Boyolali Di penghujung tahun 2011, Forum Rakyat Boyolali (Forabi) menyelenggarakan refleksi akhir tahun yang mengambil tema “APBD untuk Siapa?” dengan pembicara Ketua DPRD Boyolali S Paryanto, Kepala Distanhubun Boyolali Wisnu, dan Puji dari PNPM MD Boyolali. Namun sebelum diskusi di gelar, para peserta di suguhi ontologi puisi seniman kondang Sosiawan Leak yang berkolaborasi dengan seniman Boyolali seperti Aslar, Siwil dan Paryadi. Puisi yang kaya dengan kritik sosial di barengi dengan guyonan hangat oleh para seniman membuat acara malam itu makin hangat.

Leak mengatakan bahwa dengan berkesenian kita memiliki media yang bebas berekspresi dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat, “sekalipun saya mati, tetapi ide dan gagasan saya sudah menyebar kemana-mana melalui buku ini” tegas leak. Dia menambahkan bahwa hal ini dilakukan oleh pujangga kondang Ronggo Warsito ketika membuat syair tentang Jaman Edan, isi dari syair ini populer hingga sekarang.

Dalam sessi diskusi yang dimoderatori oleh Ribut Budi Santoso, banyak sekali kritik dan review tentang pelaksanaan pembangunan di Boyolali tahun 2011.  Banyak sekali program pembangunan prasarana fisik di boyolali seperti jalan dan jembatan yang sudah dibangun di tahun 2011 baik itu yang di danai APBD maupun dari PNPM. namun yang masih menjadi perbicangan hangat adalah soal penanggulangan kemiskinan. Salah satu peserta diskusi, Widodo menanyakan tentang seberapa jauh penanggulangan kemiskinan di Boyolali berjalan, “sudah berapa orang miskin yang terentaskan dari program program yang ada?'” tanya widodo. Namun sayang sampai akhir diskusi tidak dapat data yang pasti tentang angka pengentasan kemiskinan di Boyolali.

Perencanaan Partisipatif

Baik PNPM maupun ABPB dijelaskan oleh semua pembicara bahwa sudah di susun secara partisipatif, akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan sejauhmana anggaran yang ada masih banyak yang tidak sesuai dengan kondisi kebutuhan masyarakat terutama warga miskin. kenyataan dilapangan menunjukan bahwa peningkatan kesejahteraan warga miskin masih jauh dari harapan padahal perencanaannya sudah dikatakan partisipatif, lalu apa yang salah dengan perencanaan itu sendiri. Sempat muncul istilah dalam diskusi bahwa “ASU GEDHE MENANG KERAHE” atau yang besar selalu memenangkan pertarungan dalam perencanaan. Ini sebuah kritik tentang bagaimana suaran si miskin dalam perencanaan selalu kalah dan tidak banyak terakomodir. rekomendasi untuk perencanaan pembangunan kedepan adalah bagaimana memastikan warga miskin menjadi prioritas baik dari proses dan manfaat.

(SUNARDI MMC)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s